SUIT
Sebuah kegiatan mini soccer digelar oleh himpunan jurusan. Mengajak siapapun yang memiliki ketertarikan dengan si kulit bundar. Baik itu Alumni, Mahasiswa tua, Muda, dan sebagainya. Hari itu, Bandung sedang di guyur hujan, deras bahkan. Membasahi tubuh para pengendara yang berlalu lalang, dan menciptakan genangan di sudut-sudut jalan. Seharusnya permainan sudah dimulai tepat pukul 13.00. Hanya saja hujan tak kunjung mereda, dan lapangan penuh akan genangan. Beberapa menit berlalu langit tampak sedikit cerah, meredakan hujan, dan menyurutkan beberapa titik genangan dilapangan.
Para pemain datang bergantian. Lantas tak berfikir lama untuk berganti pakaian saat langit telah memberi harapan. Aku pun ikut serta pada permainan kloter pertama. Segera bergegas menuju ruang ganti, dan mengenakan jersey kebanggaan himpunan. 16 orang pertama akan mengawali permainan mini soccer. Untuk mempermudah pembagian tim, sebuah alternative diutarakan oleh salah seorang untuk melakukan suit. Suit? Seketika aku teringat pada masa kecil, dimana suit adalah salah satu bagian dari keseharian. Di setiap permainan yang akan diberlangsungkan pasti akan ada suit dibagian awalnya. Lantas kenapa harus suit?
Mari sedikit beranjak kemasa lalu, disebuah daratan Tiongkok, permainan Suit ini bermula pada masa Dinasti Han. Hanya saja penyebutannya memiliki perbedaan, pada mulanya permainan ini disebut shoushiling, atau yang berarti “Tiga orang yang takut satu sama lain”. Pilihannya pun bukan batu, gunting, dan kertas, melainkan Katak yang melambangkan jempol, kelingking yang melambangkan siput, dan telunjuk yang melambangkan ular.
Berbeda dengan China, di Jepang, permainan ini lebih populer dengan istilah Janken. Perlambangannya pun sangat berbeda, mereka menggunakan rubah, pemburu, dan kepala desa. Seekor rubah akan mengalahkan kepala desa. Kepala desa akan mengalahkan pemburu. Dan pemburu bisa mengalahkan rubah. Di Indonesia pun juga memiliki keunikannya tersendiri, juga sangat berbeda dari China ataupun Jepang. Perumpamaannya lebih populer menggunakan telunjuk sebagai manusia, kelingking sebagai semut, dan jempol sebagai gajah. Manusia akan mengalahkan semut, semut akan mengalahkan gajah, dan gajah akan mengalahkan manusia.
Meski dari tiga negara tersebut memiliki perumpamaan yang berbeda-beda, tujuan dari permainan suit ini rasanya memiliki kesamaan. Yakni untuk mengundi sesuatu atau untuk menentukan sebuah keputusan. Bahkan di Jepang, istilah Janken ini seringkali digunakan untuk menyelesaikan perselisihan atau mengambil keputusan penting dalam hal bisnis, politik, atau teknologi.
Rasa keinginan tauan itu akhirnya terbayarkan. Selama ini, permainan suit memang seringkali menjadi alternatif dalam pengambilan suatu keputusan. Misalnya dalam penentuan tim dalam permainan mini soccer. Bahkan tidak melulu menggunakan perumpamaan manusia, semut, dan gajah. Sesekali juga menggunakan gunting, batu, dan kertas. Hanya saja selama ini permainan itu terus dilakukan tanpa tau sejarah dan asal-usul didalamnya.
Langit semakin cerah, pembagian tim pun telah rampung. Kini setiap pemain telah bersiap di posisinya masing-masing. Dan wasit meniup peluit tanpa permainan dimulai.
Komentar
Posting Komentar